Pertemuan DEIT dan Ciputra Artpreneur Theater Membahas Pentas Teater La Galigo

Jakarta – Meski tak banyak Indonesia tahu, La Galigo adalah karya sastra terbesar yang dimiliki Indonesia, bahkan diakui dunia sebagai Memory of the World oleh UNESCO.

“La Galigo epik mitos terpanjang di dunia dan sebagai Memory Of The World yang telah disahkan serta di akui UNESCO” kata Ketua Harian Komisi Nasional untuk UNESCO, Arief Rachman, di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta kepada Antara (13/9/2014). Menurutnya, La Galigo dianggap Memory of the World karena mengandung literatur dan ingatan kolektif dunia.

Kisah La Galigo mulai digubah sebelum abad ke-13. Tak jelas siapa pengarang dari ceritera epik ini. Terutama pengarang dari karakter-karakter tokoh La Galigo. Cerita rakyat ini pun menyebar ke penjuru Sulawesi Selatan dalam versi-versi yang lebih berkembang. Apapun versinya, tokohnya selalu ada Sawerigading atau La Galigo.

Sebelumnya, La Galigo sudah dipentaskan dengan sukses oleh sutradara teater Robert Wilson pada 2004. La Galigo jadi perhatian dunia karenanya. Selain itu, ada pulo kisah yang sudah dinovelkan oleh Dul Abdul Rahman, yakni La Galigo Napak Tilas Manusia Pertama di Kerajaan Bumi dan La Galigo 2: Gemuruh Batin Sang Penguasa Laut, keduanya terbit di tahun 2012. Dul Abdulrahman menulis berdasar versi yang dia dengar ketika kecil.

Pada Juli 2019 ini, i La Galigo akan dipentaskan di Ciputra Artpreneur Teather. Annar Salahuddin Sampetoding sebagai Ketua Dewan Ekonomi Indonesia Timur mengapresiasi adat dan budaya yang dipentaskan, khususnya La Galigo yang berasal dari budaya Sulawesi Selatan ini.

“Kami dari DEIT (Dewan Ekonomi Indonesia Timur) mengapresiasi dan akan mendukung mempromosikan pentas kegiatan i La Galigo ini” ungkap Annar Sampetoding.